Berita-berita terbaru saat ini - Mengawali pembukaan perdagangan saham awal 2016, laju Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah. Pembukaan perdagangan di
awal tahun ini dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Pada
pra pembukaan perdagangan saham, Senin (4/1/2016), IHSG turun 12,84
poin atau 0,28 persen ke level 4.580,06. Pelemahan IHSG IHSG pun
berlanjut pada pembukaan perdagangan saham pukul 09.00 WIB. IHSG turun
22,88 poin atau 0,44 persen ke level 4.572,23.
Indeks saham LQ45
melemah 0,67 persen ke level 786,47. Seluruh indeks saham acuan kompak
berada di jalur merah pada Senin pagi ini.
Ada sebanyak 79 saham
melemah sehingga menekan IHSG ke zona merah. Sedangkan 38 saham menguat
dan 38 saham lainnya diam di tempat.
IHSG sempat sentuh level
tertinggi 4.580,32 dan terendah 4.568,31. Total frekuensi perdagangan
saham sekitar 5.417 kali dengan volume perdagangan saham 91,99 juta
saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 125,05 miliar.
Secara sektoral, sepuluh sektor saham kompak melemah. Sektor saham
perkebunan turun 0,14 persen. Sektor saham perdagangan melemah 0,60
persen dan sektor saham konstruksi jatuh 0,55 persen.
Berdasarkan
data RTI, investor asing melakukan aksi jual bersih sekitar Rp 2
miliar. Sedangkan pemodal lokal melakukan aksi beli sekitar Rp 2 miliar.
Saham-saham
yang menguat dan sebagai penggerak indeks saham antara lain saham GOLL
naik 21,62 persen ke level Rp 90 per saham, saham NIPS mendaki 9,88
persen ke level Rp 467 per saham dan saham PNBS naik 7,20 persen ke
level Rp 268 per saham.
Sedangkan saham-saham tertekan antara
lain saham BTEK turun 10 persen ke level Rp 1620 per saham, saham SUGI
susut 10 persen ke level Rp 423 per saham, dan saham MASA melemah 9,97
persen ke level Rp 316 per saham.
Perdagangan saham di Bursa Efek
Indonesia (BEI) di awal tahun ini dibuka oleh Presiden Joko Widodo
(Jokowi). "Pembukaan BEI dengan ini saya nyatakan dibuka dan dimulai,"
kata Jokowi dan dilanjutkan dengan memencet bel tanda pembukaan
perdagangan.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengungkapkan
bahwa pada 2015 kemarin merupakan tahun yang sangat berat bagi semua
industri termasuk juga industri pasar modal. "Tahun 2015 adalah tahun
yang tantangan, terutama sektor keuangan, karena banyak hal yang kita
hadapi seperti perlambatan ekonomi dunia, ketakutan suku bunga the Fed,"
jelasnya.
Namun ia meminta agar di 2016 ini dipandang sebagai
tahun optimisme. Pasalnya, meskipun tahun 2015 kemarin banyak tantangan
namun bisa dilewati dengan baik.
"Saya optimsitis tahun 2016
kita akan jauh lebih baik dari kemarin. Banyak orang ragu mengenai
realisasi APBN setiap hari bisa tanya kepada menko Ekonomi dan Menteri
Keuangan, setiap pagi saya cek, saya kontrol penerimaan seperti apa,
karena bapak ibu banyak ragu itu," jelasnya.
Analis PT Firs Asia
Capital, David Sutyanto menjelaskan, Pelaku pasar akan mencermati
data-data makro ekonomi yang akan dirilis pada hari ini seperti data
manufaktur, inflasi dan data kepercayaan konsumen bulan Desember.
"Apabila data tersebut positif, maka tidak tertutup kemungkinan pada
awal perdagangan tahun ini IHSG berpotensi mengalami January Effect,"
jelasnya.
January Effect merupakan fenomena tahunan yang terjadi pada pasar
modal yang ditandai dengan menguatnya harga-harga saham di bulan
Januari. Adapun sektor-sektor yang berpotensi mengalami penguatan adalah
sektor konstruksi, semen dan infrastruktur. (Amd/Gdn Liputan6)
No comments:
Post a Comment